Cosmic Balance: Film Dokumenter Seni Reak Mencuri Perhatian Dunia di Copenhagen, Denmark.

Oleh: Dhiya Silmi Amirah Soraya


(Foto: Dhiya Silmi)

Tanggal 19-30 Maret 2025, dunia perfilman internasional menyaksikan kehadiran sebuah karya yang unik dan menginspirasi. Film berjudul "Cosmic Balance", yang disutradarai oleh Andreas Johnsen tayang perdana di The Copenhagen International Documentary Film Festival. Sebuah acara ternama, hadir sejak tahun 2003 dengan lebih dari 125.000 pemirsa yang diadakan setiap tahunnya di Kopenhagen, Denmark.


Film Cosmic Balance menggali tema mendalam tentang kearifan lokal Seni Reak, sebuah seni tradisional yang berasal Jawa Barat. Tidak hanya menceritakan tentang tradisi budaya, tetapi juga tentang bagaimana seni ini beradaptasi dengan perubahan zaman serta mengisahkan keindahan dan perjuangan pelestarian seni Reak di tengah modernisasi hubungan antara manusia, alam semesta, dan teknologi. Selain itu film ini berupaya mengajak manusia untuk mempertahankan identitas dan budaya di tengah arus globalisasi yang terus berkembang. Film ini pun mengajak menjelajahi perjalanan emosional dan spiritual yang membawa penonton untuk merenung tentang keseimbangan antara tradisi dan kemajuan, serta hubungan antara manusia dengan alam semesta. 


Andreas Johnsen dan Anggi Nugraha dalam acara Screening Film di Kopenhagen 2025


Selain itu, film ini turut memperkenalkan  berbagai tokoh, penikmat hingga pelestari Seni Reak, dengan narasumber utama Anggi Nugraha yaitu pemuda asal Bandung Timur  yang berperan dalam pelestarian seni reak hingga ke kancah Internasional. Melalui pandangan dan perjalanan hidupnya, film ini menunjukkan bagaimana generasi muda berusaha untuk menjaga dan memperkenalkan seni tradisional kepada dunia yang semakin maju. 


“Reaksi orang-orang ketika menonton film Cosmic Balance sangat terkesima, apalagi ketika Kidung Bubuka dilantunkan oleh Yunia Fasya Fauziyyah, membuat suasana yang dirasakan penontonnya semakin syahdu dan terharu. Hal lain yang paling luar biasa adalah ketika seorang editor musik asal Denmark yaitu Jenno (Jens Bjørnkjær) dan pelantun lagu Elsa Torp, saya menyebutnya Mother Elisa, mengaransemen lirik lagu Kidung dari Basa Sunda ke dalam Bahasa Inggris, itu sangat luar biasa! Sungguh, Andreas pun sebagai Director, Cinematographer, dan Executive Producers sangat hebat, keren sekali! Andreas yang telah menekuni bidang film dokumenter di tahun ke-25 nya bisa memperkenalkan seni Reak ke Denmark dan aku sangat berterima kasih sebanyak-banyaknya". (Anggi Nugraha, Kopenhagen, 26 Maret 2025)


Dengan adanya film ini, diharapkan tidak hanya memberikan apresiasi terhadap Seni Reak, tetapi juga menginspirasi penonton untuk lebih menghargai dan melestarikan warisan budaya yang ada. Film ini mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kita sebagai individu dan masyarakat dapat menciptakan keseimbangan yang harmonis antara budaya tradisional dan kemajuan zaman yang terus berubah. Melalui Cosmic Balance, diharapkan penonton dapat menemukan kebijaksanaan dalam menjaga keseimbangan antara masa lalu, sekarang, dan masa depan. Jika dalam istilah Basa Sunda ‘Ngindung ka Waktu, Mibapa ka Zaman’ yang artinya harus senantiasa mengikuti perkembangan zaman dan tidak melupakan nilai-nilai tradisi.


Editor: dperbriansyah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar