Memahami Gerakan Kebudayaan dalam Musik Kolintang II

Oleh: Ambrosius M. Loho, M.Fil- Dosen Fakultas Pariwisata Universitas Katolik De La Salle Manado, Pegiat Seni Tradisi, Penulis.


 Penulis saat presentasi konsep dasar pariwisata budaya di fakultas pariwisata unika de la salle manado (foto: dokumen pribadi)


Catatan berikut ini adalah rajutan lama yang pernah penulis publikasikan. Akan tetapi, ide dan gagasan utamanya, selalu 'up date' dan populer untuk didiskusikan. Di sisi yang sama, ide dan gagasan ini, merupakan lanjutan dari tulisan pertama.


Dalam pengembangan kebudayaan, telah banyak hal yang dilakukan manusia, dan masih terdapat banyak hal lain lagi, yang bisa dilakukan terkait bagaimana budaya itu bisa dimajukan. Seirama dengan ide sasar itu dan dalam bingkai yang sama, untuk bisa masuk dan menunjukkan dengan jelas serta ketat bahwa sebuah kebudayaan terkait erat dengan filsafat, perlu juga diuraikan apa itu kebudayaan. Secara sederhana kebudayaan dapat dimengerti sebagai endapan dari kegiatan dan karya manusia. Kebudayaan merupakan manifestasi kehidupan manusia. Manusia selalu mengubah alam melalui kegiatan hidupnya. (bdk. van Peursen 1976: 11). Kebudayaan yang sedemikian dekat dengan kehidupan manusia, serta selalu mengubah kehidupan itu juga dilatarbelakangi oleh fakta bahwa kebudayaan erat terkait dengan berbagai fenomena yang muncul di setiap saat dalam kehidupan manusia.  


Dalam mengembangkan kebudayaan, setiap subjek perlu memahami tahap-tahap demi bisa sungguh-sungguh memahami dan menafsirkan kebudayaan, mengingat kebudayaan itu selalu berkembang. Pertama, menuntut pembacaan budaya dari bahasa logis ke bahasa tulis, serta simbolis dan semiotis. Ini mengartikan bahwa orang harus masuk ‘dari dalam‘ dan ‘hidup didalamnya’, termasuk mengenali bahasa dan simbol-simbolnya untuk membaca kebudayaan dalam tahap bahasa ini. Kedua, kebudayaan oleh masyarakat diungkapkan atau ditradisikan lewat peribahasa, tradisi cerita dongeng, mitos, simbol ritual, bahkan adat kebiasaan dan bahasa tanda. Membaca kebudayaan di sini membutuhkan pemahaman dan pengenalan yang tidak hanya rasional, tapi juga intuitif untuk masuk dan mencoba memahami episteme-nya. Ketiga, bacaan kebudayaan yang dimaksudkan sebagai teks yang dibaca, membutuhkan bingkai nilai dan pemahaman estetis, religius, dan etis. Artinya pembacaan memakai bingkai intuisi keindahan dari kehidupan dalam seni dan religiositas terhadap perilaku dan setiap tindakan yang dipilih, untuk dijalani oleh kelompok masyarakat tertentu. Keempat, sebagai patokan atau acuan, kebudayaan pada tahap ini harus dibaca dari norma, aturan tingkah laku, yang mengatur hubungan bersama. Maka kebudayaan tidak cukup hanya diteliti secara kuantitatif, tapi kualitatif serta bersifat dialektis. 


Demikianlah maka harus disadari bahwa membaca kebudayaan memang membutuhkan kesiap-sediaan untuk terus menerus mengartikulasikan makna yang tersembunyi dibalik tradisi lisan maupun tulisan. Kita lahir dari kehidupan budaya lisan dan tulisan yang menggugah kita untuk memberi tafsiran baru dengan membacanya menurut makna tradisi. Dengan membaca kebudayaan sebagai sistem makna, niscaya kita akan menemukan sebuah ‘episteme’ menuju ke arah yang membuat budaya, lebih beradab, lebih dipahami dan lebih bermakna.


Akhirnya, catatan ringkas nan sederhana ini diyakini merupakan upaya untuk menunjukkan kepada publik bahwa semua proses pengembangan, pelestarian dan pewarisan musik kolintang, pada dasarnya menyatu dengan konsep besar sebuah gerakan kebudayaan, yang sampai saat ini sedang berproses dalam pengakuan sebagai warisan budaya tak benda di UNESCO.


Editor: Desty Nursyiam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar